ALIENASI DAN PENDIDIKAN PEMERDEKAAN

“Jika Anda hidup tanpa mempelajari kehidupan, maka hidup Anda tidak layak disebut sebagai kehidupan”

(Sokrates)

Kita melihat, Kemajuan teknologi pada awalnya selalu membuat efisiensi dalam kehidupan manusia. Namun perkembangan selanjutnya teknologi justru menenggelamkan manusia dalam suatu rutinitas dan otomatisasi kerja yang diciptakan. Keadaan itulah yang menjadi salah satu penyebab manusia terpisah dari sesama atau dunia luar dan akhirnya mengalami keterasingan (alienasi). Manusia tidak lagi hidup secara bebas dengan lingkungannya tetapi secara berangsur-angsur telah dikelilingi oleh teknik, organisasi, dan sistem yang diciptakan sendiri. Manusia mulai terkuasai oleh kekuatan-kekuatan tersebut sehingga menjadi tergantung dan lemah. Dalam keadaan ini manusia tidak lagi menjadi subjek yang mandiri tetapi telah mengalami detotalisasi dan dehumanisasi.

Lunturnya nilai-nilai manusiawi telah menggiring manusia pada suatu kondisi keterasingan. Secara filosofis, keterasingan manusia menunjukkan adanya pikiran, sikap, ataupun tindakan yang menjurus pada goyahnya eksistensi manusia.

Yang paling menarik untuk dicermati bahwa aktor utama dalam alienasi ini adalah si individu itu sendiri. Apapun realita sosial yang ada alienasi kembali pada manusia. Sifat dasar manusia yang penuh ambisi dan materialis sulit untuk dikendalikan. Manusia terus mencari eksistensinya demi kelanjutan hidupnya. Dalam proses mencari eksistensi tersebut awal-awalnya manusia akan mengalami kejutan budaya dimana seseorang berada pada tempat yang bertolak belakang dengan rajutan makna yang ia punyai.

Untuk mengatasi kejutan budaya, seringkali kesabaran masyarakat teruji. Perjuangan mengatasi keterasingan budaya harus tetap dilanjutkan walau kemarahan sering melukai hati. Senyum ramah yang masyarakat berikan seolah hanya sebuah rahasia dalam eksistensi sosialnya, bahkan kesetiaan dapat dijual belikan. Saat ini masyarakat butuh sentuhan yang mampu melahirkan kerinduan suci yang tanpa paksaan, kepalsuan dan sorot mata penyesalan. Kemampuan masyarakat untuk berfikir adalah suatu anugerah istimewa, sehingga kemampuan inilah yang menjadi penunjuk jalan kedalam ruang nalar kritis untuk berfikir bahwa setiap orang berhak untuk saling melindungi, saling menghargai, saling percaya dan saling setia. Namun  terkadang dalam proses interaksi sosial sebuah penyadaran moral dilakukan untuk melihat tinggi rendahnya komitmen dan kesetiaan kelompok masyarakat dalam melepas belenggu alienasi sehingga apapun yang akan terjadi dibiarkan berlaku apa adanya, karena ketika masyarakat temui jawabannya tetapi dengan hati dingin mereka menolaknya, maka yang demikian tersebut sudah cukup untuk menguji kesetiaan.

Fenomena yang tidak disadari oleh masyarakat dalam menjaga, merawat dan mengurus kemampuan berfikirnya adalah kebekuan hati yang menyebabkan mereka tak mampu menjaga keselarasan dalam melangkah, Sehingga isi kepala tak mampu pula menghasilkan suatu hal apapun walaupun dia di anugerahi kemampuan berfikir. Kondisi ini semakin diperparah oleh keadaannya yang saling bertengkar mengenai benar atau tidaknya sikap tindak.

Ketidakselarasan ruang gerak menyebabkan kebudayaan bisu yang membungkam kesadaran moral, oleh karena itu perlu adanya daya-daya kreatif untuk menggugah kesadaran masyarakat yang bukan berawal pada setiap perbuatannya tetapi kesadaran dalam membangun pondasi awal sebuah bangunan yang membutuhkan keterbukaan hati, kerinduan berfikir dan sebuah kesetiaan, sehingga hal-hal tersebutlah yang akan mampu mengatasi permasalahan Spiritual, Stagnasi Intelektual, Dekadensi Moral, dan hilangnya Kepekaan Social bagi para masyarakat.

Refleksi diri dalam ruang akal dan pendidikan akan mampu membangun diri menghadapi belenggu keterasingan melalui transitif magis, naïf dan kritis sehingga menjauhkan kita pada obyektifitas mekanik yang sangat merendahkan harkat dan martabat manusia.

Transitif magis atau Kesadaran magis adalah kesadaran masyarakat yang tidak mampu melihat kaitan antara satu factor dengan factor lainnya. Kesadaran magis sendiri lebih melihat factor di luar manusia sebagai penyebab dari penindasan atau ketidakberdayaan manusia. Selanjutnya, kesadaran naif yang lebih melihat aspek manusia sebagai akar penyebab masalah yang terjadi dalam masyarakat. Sedangkan kesadaran kritis adalah kesadaran yang menjadi kata kunci dan anjuran Freire. Kesadaran kritis bagi Freire adalah kesadaran yang lebih melihat aspek system dan struktur sebagai sumber masalah.

Penyadaran bukanlah suatu teknik atau hanya sekedar transfer informasi antara pendidik dan peserta didik, atau pelatihan keterampilan. Akan tetapi penyadaran dengan metode pendidikan saling berhadapan adalah suatu proses pendidikan yang dialogis subjek-subjek yang kemudian akan mengantarkan manusia untuk mampu memecahkan masalah eksistensial mereka. Penyadaran dalam filsafat pendidikan mengemban tugas pembebasan.

Konsep perjuangan pendidikan pemerdekaan, Salah satu hal yang objektif adalah konsep berfikir yang tidak mengandalkan sebelah mata, oleh karena harus mampu melihat kenyataan bahwa kebenaran tidak berasal dari perorangan atau salah satu kelompok intelektual yang ada, tetapi kebenaran itu dapat muncul melalui keberanian melihat kenyataan-kenyataan yang bisa dilihat dari berbagai macam sudut pandang.

Kenyataan pahit memang seringkali dialami masyarakat manakala konsep terbaik yang pernah dibuat tidak sesuai dengan harapan. Memang pada dasarnya kaum intelektual atau kalangan kelas menengah disekitar masyarakat sangat handal dalam meracik sebuah konsep, tetapi implementasinya terasa kurang mengena karena mereka tidak memahami tentang arti sebuah keterbukaan hati. Masyarakat kelas menengah seharusnya malu ketika masa depan bangsa dicemari oleh semangat basi, artinya sebuah semangat yang hanya di hembuskan sesaat oleh mereka sebagai suatu hal yang menyenangkan hati, tanpa adanya bius kerinduan dalam menciptakan kesadaran tentang indahnya kebersamaan dan komitmen. Oleh karena itu diperlukan perjuangan ekstra keras dalam mewujudkan kesadaran masyarakat yang berorientasi pada keberhasilan menuju semangat pendidikan pemerdekaan dan pencerahan.

Adanya keberanian untuk membenahi diri adalah sifat seorang kesatria. Pengaturan terhadap tugas, fungsi dan peran masyarakat juga merupakan langkah strategis dalam membangun perubahan masyarakat. Sifat kesatria ini murni berasal dari barisan masyarakat yang mempunyai kesadaran diri sebagai Masyarakat Selektif. Dengan demikian masyarakat akan menjadi sebuah organisasi yang didalamnya memiliki nilai ontologis dengan kemurnian jiwa dan kerinduan berfikirnya.

Transformasi ide-ide pencerahan harus mampu berdiri diatas kebenaran walau menyakitkan. Perlawanan-perlawanan terhadap sesuatu yang sifatnya menggerogoti diri harus dilakukan karena hal itulah yang akan mampu membangkitkan giroh perjuangan masyarakat lingkungan sekitar. Melawan adalah kemenangan yang teruji, layaknya perjuangan seorang manusia yang melawan penyakitnya maka perlawanan dalam tubuh perlu dilakukan untuk tujuan mengarahkan manusia lainnya menjadi aktif dalam kegiatan, kreatif dengan ide-idenya dan solid dalam kebersamaannya.

Manusia adalah penguasa atas dirinya, dan telah menjadi ciri khas tersendiri bagi manusia bahwa ia mampu mengatasi masalahnya sendiri dengan “kehendak untuk berkuasa” yang dimilikinya. Dan oleh karena itu fitrah seorang manusia adalah merdeka dan bebas. Hal yang seperti inilah yang diperjuangkan Paulo Freire dalam upayanya untuk memperjuangkan pendidikan yang humanis, pendidikan yang tidak merendahkan kemanusiaan.

Pendidikan Kaum Tertindas merupakan salah satu karya mengenai cita-cita dan perjuangan Paulo Freire guna mewujudkan pendidikan yang humanis. Filsafat pendidikannya Freire memandang bahwa bagaimanapun bentuk penindasan adalah tidak manusiawi, apa pun alasannya. Budaya bisu yang selama ini sering dipraktikan dalam lingkungan pendidikan merupakan bentuk nyata dari penafian kemanusiaan (dehumanisasi). Selama hidupnya ia selalu memperjuangkan agar setiap manusia yang mengalami dehumanisasi dapat menghindarkan diri atas alienasi kehidupan nyata dari budaya pendidikan yang menindas. Bagi Freire  jika seseorang pasrah, menyerah akan apa yang menindas sesungguhnya ia sama sekali tidak manusiawi.

Pemikiran Freire lebih berupa bimbingan untuk menjadi seorang guru yang benar dan murid yang benar dalam arti tahu posisi dan tanggungjawabnya sebagai manusia yang berpendidikan. Pendidikan haruslah saling berhadapan antara murid dan siswa, bukan malah menjaga jarak antara guru dan murid sehingga membuat murid akan teralienasikan dari kehidupan dunia nyata.

Subjek materi dan proses belajar mengajar dalam kurikulum seharusnya bersumber dari dari realitas konkrit keseharian peserta didik sendiri. Sementara kurikulum yang baik adalah yang berpusat pada “problematisasi” situasi konkrit. Peserta didik bersama para pendidiknya memaknai berbagai macam persoalan seputar pengalaman hidupnya dan berusaha memecahkan persoalan yang dihadapinya. Sebagai mediator pendidik seharusnya berfungsi meyakinkan akan realitas yang diketahui oleh peserta didiknya, lantas secara bersama menganalisisnya sehingga peserta didik mampu membangun pengetahuannya sendiri secara kritis dan berakar dari pengalaman konkrit.

Pendidikan kaum tertindas bukanlah konsep filsafat kering yang mencoba memberikan asas-asas atau jawaban dalam rangka menangani masalah-masalah social. Pendidikan kaum tertindas bukanlah sekedar teori murni yang lepas dari praktik social, teori tentang filsafat pendidikan merupakan suatu tindakan yang menuntut komitmen, dan member motivasi dalam hidup.

Banyak teori mengenai pendidikan bertema perubahan structural, meskipun wilayah terakhir yang ingin dituju filsafat adalah perubahan sistematik. Pendidikan kaum tertindas bertujuan untuk pembebasan dan pemanusiaan. Pendidikan, selalu berperan penting dalam eksistensi manusia dan dalam rangka pemanusiaan serta pembebasan, dengan kata lain penyadaran merupakan inti dari pendidikan.

Konsepsi dan aksi yang radikal untuk merubah kembali dunia pendidikan yang sudah tidak lagi humanis merupakan hal yang penting dan patut kita teruskan perjuangannya. Pendidikan merupakan sebuah Pilot Project dan agen untuk melakukan perubahan social guna membentuk masyarakat baru dan anti terhadap penindasan dalam pendidikan. Pendidikan merupakan sebuah bentuk perjanjian khusus dengan masyarakat yang memegang dominasi untuk menentukan kehidupan social di masa yang akan datang, dan oleh karena itu masyarakat haruslah berpartisipasi dalam pendidikan dan sekolah.***

(Penulis Harjono)

Jakarta, (040713)

Leave a Reply

Your email address will not be published.