Pemikiran HOS Tjokroaminoto secara Kaffah didasari atas Konteks Ekonomi Keumatan bukan Didasari Perebutan Jabatan Politik

Setinggi-tinggi ilmu, semurni-murni tauhid, sepintar-pintar siasat. Itulah salah trilogi termasyur karya Raden Hadji Oemar Said Tjokroaminoto, lebih dikenal dengan nama H.O.S Cokroaminoto, pemimpin organisasi pertama di Indonesia, yaitu Sarekat Islam.

Ketua Umum Pimpinan Pusat Pertahanan Ideologi Sarekat Islam (PP PERISAI) Chandra Halim dalam pesannya kepada media mengatakan “bahwa memang benar banyak para pemimpin bangsa yang kemudian lahir menjadi jargon ideologi di Indonesia, seperti Semaoen, Alimin, Muso, Soekarno, Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo, bahkan Tan Malaka pernah berguru kepadanya.” Namun tambah Chandra, “warna-warni pergerakan dan ideologi di Indonesia lahir setelah HOS Tjokroaminoto wafat dari para muridnya tersebut.”

Kepeduliannya kepada pemuda Indonesia yang kemudian menjadi para tokoh ideologi tersebut, pernah menjadi muridnya bahkan kost di rumah Tjokroaminoto, merupakan salah satu tekatnya yang berani melawan kolonial Belanda.

Berangkat dari ordonasi kolonial Belanda yang memberi kebebasan kepada pedagang asing, penguasaan komplar ekonomi rakyat, dasar inilah yang menjadi tujuan utama dalam konteks sekarang dikatakan back to basic yaitu ekonomi keumatan. Jauh dari konteks politik pada dasar perjuangan Sarekat Islam yang awal bernama Sarekat Dagang Islam (SDI)

Chandra Halim bahkan menjelaskan dalam jurnal Sarekat Islam dalam Pergerakan Nasional Indonesia (1912-1927) (2009) karya Yasmis,
Pendirian Sarekat Islam memiliki beberapa tujuan, yaitu:
1. Mengembangkan jiwa dagang dan kesejahteraan masyarakat pribumi
2. Mengembangkan pendidikan dan pengajaran bagi masyarakat pribumi
3. Memperbaiki citra Islam di kalangan masyarakat luas
4. Membantu kesulitan yang dialami anggota dalam sektor ekonomi
5. Mengembangkan eksistensi agama Islam di Indonesia.

 

oleh : Wakil Panglima Perisai (FIAH)