Problem Urban, dari China Ke Desa

Problem Urban, dari China Ke Desa

Oleh : Syahrir

Dewan Pakar Syarikat Islam
Direktur Analisis Fiskal dan Moneter

The subject problem, Indonesia tengah menjadi central position and the basic tenaga kerja asing from China. Dengan jumlah cukup besar.

Artinya adalah, terdapat kelemahan transfer know ledge masuk ke desa desa. Bukti konkretnya, para tenaga kerja dari China, masuk sampai ke desa desa, sementara masyarakat Indonesia justru eksodus, atau urban dari desa ke Kota. Misalnya dari desa di Lampung, anak anak muda di daerah itu, umumnya, perempuan dan pria, dengan usia masih belia, mereka ramai ramai datang menyerbu kota.

Untuk itu, sample saya sangat jelas. Seorang perempuan bernama Izmi, rela dan nekad meninggalkan ibu dan bapaknya di kampung halamannya, lalu merantau ke Jakarta, dengan sedikit alasan, bahwa ingin menuntut pendidikan tinggi atau kuliah di perguruan tinggi. Namun sesungguhnya, dia, mencari pekerjaan dan setelah dapat pekerjaan, menetap selamanya di Jakarta.

Asumsi tersebut tergambarkan, bahwa, seandainya di Lampung, kampung tempat Izmi hidup bersama keluarganya tercukupi, sistem transaksi bisnis berjalan normal, berikut elemen serta instrumen aktivitas ekonominya, dan juga pendapatannya dalam mencapai kemajuan, tercapai kemapanan dan kesejahteraan, yakin, seorang bernama Izmi, tak mungkin datang ke Kota Jakarta.

Oleh para ilmuan, dan akademisi China membaca momen tersebut. Mereka mengkaji masyarakat dan sumber daya alam Indonesia. Asumsinya, tersimpulkan, sebuah kesalahan fatalistik dalam membangun Indonesia. Di antaranya, pembangkit sumber daya ekonomi Indonesia, justru adanya di sejumlah desa, akan tetapi, sebaliknya terjadi, masyarakat pedesaan di Indonesia justru hengkang atau memilih urban, meninggalkan kampungnya, hijrah ke kota.

Logisnya, mereka para penduduk desa, kurang menyadari, jika kampung halamannya, sesungguhnya menyimpan timbunan sumber daya ekonomi demikian besar. Dan jika di kelola dengan benar, desa desa tersebut bisa di sulap menjadi kota kota besar dan penduduknya sejahtera, bergelimang kemewahan dan juga bermetropolitan.

Di saat, sekelompok ilmuan dan akademisi China membaca potensi tersebut, maka mereka menyampaikan kepada pemerintah China agar mengirim ribuan tenaga kerja, untuk masuk ke desa desa dan kampung di seluruh Indonesia, dengan tujuan menggarap sumber daya alam. Hitungan mereka, tak sampai sepuluh tahun, pengelolaan sumber daya ekonomi di setiap desa di Indonesia, panen keuntungan akan cepat tertuai.

Realitas di kondisional tersebut, masyarakat Indonesia hanya bisa protes, masuknya tenaga kerja asal China secara besar besaran. Dan pemerintahpun seakan “membiarkan.”

Korelasinya adalah, dibutuhkan ke sejajaran pemahaman, termasuk pengendalian, dalam kategori, kesadaran integral, untuk merebut kembali desa, dan sumber sumber ekonomi di dalamnya.

Untuk itulah, di suguhkan kebangkitan instrumen bisnis dan transaksi dengan jumlah ratusan juta. Dan ketika instrumen bisnis tersebut menjamah sampai ke desa desa, seperti di praktekkan tenaga kerja China masuk keIndonesia, maka secara realitas, pertumbuhan ekonomi pasti merangkak naik.

Asumsi tersebut berlandaskan logika ekonomi, jika ratusan instrumen transaksi bisnis di buka dan terbuka, maka jelas berbanding lurus dengan menguatnya anggaran pembangunan bagi setiap provinsi, yakni nilainya mengharuskan, 5.000, triliun rupiah setiap provinsi.

Dorongan agar pemerintah pusat, berani mentargetkan anggaran 5.000 triliun rupiah setiap provinsi, adalah sebuah kenyataan. Bahwa, jika bukan dari sekarang, anggaran pembangunan tak sebesar lima ribu triliun rupiah setiap provinsi, maka generasi bangsa, akan menunggu 100 hingga 200 tahun untuk dapat hidup seperti di negara negara maju.

Parameter faktanya adalah, di hampir 100 tahun Indonesia merdeka dan membangun dengan kisaran anggaran, 2 sampai 3 triliun rupiah pertahun setiap provinsi, nyatanya, pembangunan di setiap daerah sangat lambat, dan sebaliknya, justru eksploitasi sumber daya ekonomi daerah jaun lebih cepat tertransaksikan, bahkan habis terkuras, di banding pertumbuhan pembangunan. Korelasinya begitu.

Saat ide dan gagasan, mensuplay anggaran lima ribu trilun perprovinsi, saya kemukakan, dan saya pun diserang habis. Dengan asumsi mereka, bahwa dengan anggaran sebesar itu, pasti akan terjadi hyper inflasi.

Dan saya pun menjawabnya cukup ringan, menyatakan, bahwa yang berpikir akan terjadi hyper inflasi, hanyalah bagi mereka yang “berotak standar”. Pastinya, tidak mungkin akan terjadi inflasi tinggi, atau systemik inflasi jika anggaran sebesar itu, didukung oleh 350 juta instrumen bisnis dan transaksi, mulai pusat sampai ke daerah.

Nilai 350 juta item dan sistem bisnis berikut instrumennya, masih terlalu sedikit jika di banding dengan luas Indonesia beserta demografinya. Bahkan secara besar besaran seluruh sumber daya ekonomi, berbasis sumber daya alam di gerakkan secara menyeluruh, dengan tujuan utama, setiap butir sumber daya alam, dapat di kerjakan oleh putra putri di desa tersebut di seluruh Indonesia.

Simulasi korelatifnya, contoh, hand phone merek Samsung, di pasarkan oleh Korea di seluruh Dunia. Dan terkonsumsi oleh pasar dunia. Sesungguhnya, posisi market yang sama juga terjadi pada emas yang ada di setiap desa, di sungai, di gunung dan di lembah, seluruh Indonesia. Dan jika di kelola serta di garap dengan teknologi dan di kerjakan oleh putra putri di Indonesia, yakin produk sumber daya alam berupa mineral tersebut, juga pasti terkonsumsi oleh pasar dunia. Demikian juga intan, berlian, batu perhiasan, seperti giok, leon dan batu permata lainnya, termasuk pula, nikel, dan sejenisnya, jika di pasarkan di market global, jelas mendatangkan keuntungan demikian besar. Dan sejumlah bahan baku tersebut tersimpan dan tertimbun di sejumlah desa di Indonesia, termasuk di Lampung.

Di kategori pandangan tersebut, membuka ruang berpikir dan aplikasi, untuk mendorong pemerintah agar tidak terjebak dalam euphoria investasi asing yang datang dari China dengan jumlah ribuan bahkan bisa sampai ratusan ribu tenaga kerja.