Syahrir Muhammad : Penguatan UMKM Mutlak Dilakukan Agar Terjadi Pemerataan Ekonomi

Jakarta :  “Pertumbuhan ekonomi dunia yang hanya berada pada level 2,1 persen atau mengalami penurunan menjadi salah satu faktor penyebab lesunya pertumbuhan ekonomi nasional,” tegas pengamat ekonomi, Syahrir Muhammad, saat menjadi pembicara dalam acara diskusi akhir tahun yang diselenggarakan oleh Badan Koordinasi Nasional Lembaga Ekonomi Mahasiswa Islam Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam (Bakornas LEMI PB HMI) dengan tema ‘Strategi Penguatan UMKM ditengah Resesi Ekonomi Global’ di Sekretariat PB HMI, Jalan Sultan Agung Nomor 25, Guntur, Manggarai, Jakarta Selatan, Selasa (31/12).

Oleh karena itu, kata Syahrir, pemerintah harus berupaya melakukan tindakan agar ekonomi nasional tetap dalam posisi stabil. Salah satu antisipasinya adalah membuat solusi terbaik untuk mencegah terjadinya Net Capital Flow atau melakukan pembatasan terhadap aliran modal masuk kedalam negeri.

“Jika ini dilakukan oleh pemerintah, maka pertumbuhan ekonomi dalam negeri tetap terjadi karena kebutuhan roll materiil (bahan baku) bagi industri negara-negara maju masih sangat besar,” ujarnya.

Sementara itu, lanjut Syahrir, hubungannya dengan UMKM adalah pemerintah memberikan peluang bagi pelaku UMKM untuk ikut bertransaksi dalam industri roll materiil yang melakukan ekspor.

“Salah satunya adalah memberikan porsi kegiatan ekonomi untuk mengelola salah satu instrumen bisnis yang berhubungan dengan kegiatan bisnis bagi para eksportir untuk bahan baku industri,” jelas Syahrir.

Nah, tambah Syahrir, porsi UMKM itu mengharuskan diberikan perlindungan berupa area bisnis sehingga tidak terlibas oleh para konglomerat. Peran pemerintah di instrumen bisnis UMKM berupa perlindungan market, yakni regulasi yang pro terhadap UMKM.

“Sesuai data dari Kemenkeu tahun 2019, jumlah UMKM di Indonesia berjumlah sekitar 56,4 juta dan sepanjang tahun 2019, pemerintah telah memberikan bantuan permodalan sebesar 44 trilyun rupiah lebih. Artinya adalah masih jauh lebih kecil jika dibanding pertumbuhan UMKM yang mencapai 1,6 persen per tahun,” jelasnya.

Menurutnya, untuk menghilangkan pengaruh menurunnya pertumbuhan ekonomi global dengan UMKM dalam negeri, seharusnya dilakukan sinergi usaha antara bisnis kelas besar dengan UMKM. Salah satunya pengusaha kelas besar tidak mengambil pasar UMKM.

Sementara itu, Yana Mustika sebagai pelaku UMKM yang juga menjadi pembicara menuturkan bahwa selain permodalan terhadap UMKM diperbesar oleh pemerintah, regulasi pun harus diperkuat.

“Pemerintah seharusnya memberikan regulasi yang begitu mudah dengan tujuan menumbuhkan UMKM. Apalagi dengan adanya Omnibus Lawa, maka pemerintah dapat melakukan reformasi hukum terhadap UMKM agar UMKM dapat bersaing dengan usaha skala besar,” tutup Yana.